Pages

23 November 2012

Bisnis yang Berjiwa (Media) Sosial 0:-)

Links to this post


Long weekend kemarin, saat saya dan seorang teman sedang asik ngobrol membahas masa depan di sebuah resto sembari menikmati hidangan, tiba-tiba entah dari mana datangnya, seorang SPG menampakkan diri tepat di sebelah meja kami. Dengan produk yang tidak tepat, waktu yang tidak tepat, dan situasi yang tidak tepat *hattrick*, beliau menjelaskan panjang, lebar, dan tinggi tentang produknya. Yak, saya ucapkan selamat kepada SPG tersebut karena telah berhasil mengganggu waktu berkualitas saya, yang mau-tidak mau harus saya hadapi sebagai salah satu bentuk cobaan hidup.

Mungkin Anda juga pernah mengalami hal serupa dengan yang saya alami itu, diinterupsi oleh seseorang atau sesuatu, entah itu SPG/sales person, telepon dari tele marketer atau SMS KTA yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan keinginan dan kebutuhan Anda. Dan celakanya, aksi interupsi tersebut juga merambah ranah daring (online) umumnya, dan media sosial khususnya.

Media sosial sebagai wadah bersosialisasi, pada intinya tidak jauh berbeda dengan restoran/cafe, sekolah, kantor dan berbagai tempat lainnya di mana kita beraktivitas dan bersosialisasi bersama teman, rekan kerja atau saudara. Tetapi internet dan teknologi web 2.0 telah menjadikan media sosial sebagai wadah bersosialisasi yang hampir dapat dikatakan tidak dibatasi lagi oleh ruang dan waktu. Dengan demikian maka interupsi yang terjadi di media sosial pun juga hampir dapat dikatakan tidak lagi mengenal ruang dan waktu.

Komentar spam, out of topic post (OOT), photo tagging abuse, trending topic abuse dan berbagai kegiatan interupsi lainnya yang menggangu di media sosial, hampir dapat dikatakan sebagian besar dilatarbelakangi oleh motivasi bisnis (baca: jualan). Dan yang lebih memprihatinkan, kegiatan tersebut tidak hanya dilakukan oleh pelaku usaha kecil-menengah, tetapi juga dilakukan oleh perusahaan besar sekalipun. Media sosial sering kali diidentikan dengan "tempat iklan dan promosi gratis", sehingga pendekatan interupsi / outbound marketing semakin marak di media sosial. Para marketer sering lupa bahwa sesungguhnya para pengguna media sosial telah dibekali senjata untuk melindungi diri (bahkan melakukan serangan balik) dari serbuan interupsi pada media sosial. Block, ban, report as spam, unfollow, unfriend, unlike merupakan pertahanan terakhir untuk membela hak-hak privasi dan kenyamanan dalam menggunakan media sosial.


Pemanfaatan sosial media dengan pola pikir yang tidak tepat (konvensional), menimbulkan banyak masalah dan ketidaknyamanan. Mulai dari sekedar cibiran, kecaman, rusaknya reputasi, bahkan sampai dengan sanksi sosial. Sebelum penguasaan berbagai hal teknis tentang pemanfaatan media sosial, mindset dan jiwa media sosial merupakan hal yang harus dipahami dan diadopsi sejak awal.

Social media is a mindset not a toolset.
Perkembangan teknologi internet dan penetrasinya yang kian pesat di tengah masyarakat pada lima tahun terakhir, telah mengubah tatanan pola interaksi, ekonomi, sosial dan budaya. Tembok hirarki dan sekat-sekat distribusi informasi yang dahulu kokoh berdiri congkak, sekarang mulai runtuh dan memudar. "Dunia telah menjadi datar", semangat egaliter dan kesetaraan kian hari kian kental terasa. "In social media, we are the media". Saat ini hampir dapat dikatakan setiap orang yang dapat mengakses internet, memiliki kesempatan yang sama untuk menyiarkan informasi yang ia ingin publik mengetahuinya. Pun sebaliknya, seseorang juga memiliki kontrol penuh tentang informasi apa saja yang mau atau tidak mau ia konsumsi.



Dahulu saat tidak tersedia banyak pilihan, hanya pemilik modal besar dan pemegang tangkup kekuasaan sajalah yang memiliki kontrol terhadap informasi yang bersifat satu arah (media massa konvensional), tetapi sekarang, di media sosial, mereka berdiri sejajar bersama bisnis kecil dan rakyat jelata lainnya di tengah riuh-rendah komunikasi dua arah. Dengan demikian, pada media sosial pendekatan interupsi / outbound marketing semakin tidak relevan dan tidak efektif lagi, tergantikan oleh pendekatan permission / inbound marketing yang pada akhirnya semakin memanusiakan manusia.

Saya pribadi masih berpendapat tujuan utama yang harus dimiliki sebuah brand ketika memutuskan untuk terjun ke dalam media sosial adalah untuk membangun keakraban dan hubungan jangka panjang, bukan sekedar jualan atau "promosi dan iklan gratis" semata. Di media sosial sebuah brand tidak ubahnya seperti "seorang teman", berdiri sejajar dengan pelanggan. Saat berinteraksi dalam media sosial, saya sangat suka dengan teman yang gemar berbagi informasi dan pengetahuan yang relevan dan bermanfaat, teman yang responsif dan luwes dalam bersosialisasi, teman yang mengakui kesalahan dan meminta maaf bila bersalah, sehingga membuat saya lebih dapat memakluminya dan bahkan menaruh hormat padanya. Bila ada teman yang seperti tersebut suatu ketika menawarkan susuatu pada saya, saya akan dengan senang hati mendengarkan tawarannya, dan bila sesuai dengan kebutuhan dan keinginan, maka saya akan menerima tawaran tersebut. Sebaliknya, saya sangat enggan dengan teman yang selalu menyebut-nyebut kebaikannya sendiri, gemar memuji-muji diri sendiri, terus-menerus hanya berbicara tentang dirinya tanpa mau mendengar, berkilah ketika sudah jelas-jelas salah, menginterupsi dengan berbagai hal yang tidak relevan, dan hanya baik serta menyapa ketika ada maunya saja. Tidak jauh berbeda dengan sebuah brand. Media sosial sebuah brand yang tidak hanya "jualan", tetapi juga berbagi informasi berguna dan relevan, luwes dalam berinteraksi, terbuka terhadap kritik dan merespon keluhan, akan lebih disukai oleh pelanggan serta fans/followernya, yang kemungkinan besar akan direkomendasikan oleh fans/followernya tersebut pada teman-teman di jejaring mereka.

Sometimes it's good to be small
Media sosial merupakan konsep baru yang masih berkembang sampai saat ini. Tak heran masih banyak pihak yang belum menangkap esensi media sosial karena masih menggunakan mindset dan konteks budaya konvensional dalam mencernanya. Mengubah mindset bukanlah pekerjaan mudah, banyak resistansi yang akan timbul, terutama dari orang-orang (lama) yang merasa sudah mapan dengan apa yang mereka ketahui selama ini. Begitu pula dengan merubah budaya, perusahaan-perusahaan besar dengan segala protokoler dan birokrasi, ditambah lagi dengan budaya otoriter, akan sangat kesulitan dan membutuhkan waktu lama dalam mengadopsi mindset dan budaya media sosial. Tidak dalam hitungan bulan, tetapi hitungan tahun, waktu yang diperlukan beberapa institusi besar untuk menyesuaikan diri dengan mindset dan budaya sosial media. Di sinilah letak keunggulan usaha kecil-menengah bila dibanding dengan perusahaan-persuhaan besar dalam mengadopsi mindset media sosial.

Fleksibilitas dalam mengadopsi sesuatu yang baru, respon yang cepat (tidak terbelit protokoler dan birokrasi), perhatian personal dan rasa memiliki yang intens, kreativitas yang lebih dinamis, kedekatan dengan komunitas adalah faktor-faktor keunggulan usaha kecil yang seharusnya dapat menjadikan usaha kecil-menengah lebih unggul di media sosial. Sudah banyak contoh nyata usaha kecil-menengah yang dengan baik mengadopsi mindset dan menerapkan budaya media sosial, yang akhirnya sukses menjadi besar, di antaranya adalah Keripik Ma Icih dan Holycow! Steakhouse.

Media sosial adalah tren global yang telah diprediksi keberadaannya pada akhir 90-an dan mulai menjadi perhatian pada 2-3 tahun terakhir. Hampir dapat dikatakan mau-tidak mau, perusahaan besar sampai usaha kecil-menengah harus terjun ke dalam (atau setidaknya memantau) media sosial, terutama usaha yang bersinggungan langsung dengan konsumen akhir. Hal utama yang harus dipahami sebelum sebuah institusi perusahaan, dalam skala apapun, memutuskan untuk terjun ke dalam media sosial adalah tentang mindset dan budaya media sosial.

Media sosial masih akan terus berkembang. Peran komunitas, industri, dan akademisi masih sangat diperlukan untuk merumuskan pemanfaatan media sosial yang optimal dan menguntungkan semua pihak yang terlibat di dalamnya. Langkah Prasetiya Mulya Business School yang memberi perhatian khusus terhadap perkembangan media sosial patut mendapat apresiasi dan dukungan. Semoga ke depannya tidak ada lagi bisnis, baik besar maupun kecil, yang berniat terjun ke media sosial dengan hanya bermotivasikan "biar bisa promosi dan ngiklan gratis" :p

Bila ada pertanyaan atau pendapat lain tentang mindset dan budaya pemanfaatan media sosial serta bagaimana media sosial sebaiknya digunakan, yuk kita diskusikan di kolom komentar :) 

20 November 2011

Wisata Kota Temuan Warga

Links to this post
“Makannya baca bismillah dulu, ya!” ucap seorang anak berumur sekitar tiga tahun kepada seekor rusa Istana Bogor sembari menyodorkan sebatang wortel di tangannya. Anak ini hanya satu dari sekian banyak pengunjung yang antusias memberi makan rusa-rusa dari sebelah luar pagar Istana Bogor. Berkerumun di sepanjang pagar Istana Bogor, ratusan pengunjung berebut memberi makan rusa-rusa yang berani mendekat ke bibir pagar.



Rusa Istana & Warga
Salah satu keunikan Istana Bogor adalah keberaadaan rusa-rusa totol di halamannya yang luas. Rusa-rusa ini didatangkan dari perbatasan Nepal dan India pada 1808 di masa pendudukan Belanda. Dari awalnya yang hanya tiga pasang, kini paling tidak ada tujuh ratus rusa yang hidup di pekarangan Istana Bogor.

Keindahan rusa-rusa Istana Bogor tidak hanya dapat dinikmati dari kejauhan, sebagian rusa-rusa ini ternyata cukup berani mendekat pagar dan berinteraksi langsung dengan pengunjung di trotoar sepanjang pagar Istana Bogor sisi Jalan Juanda. Walau tidak semua rusa berani mendekat, paling tidak ada puluhan rusa yang sudah terbiasa berinteraksi dengan lalu lalang manusia di sepanjang pagar.

Istana Bogor memang bukan area terbuka publik. Hanya orang-orang dengan kepentingan jelas saja yang bisa memasuki kompleks Istana. Namun, trotoar di sepanjang muka Istana Bogor tentu adalah ruang terbuka yang sah-sah saja untuk dilalui siapapun. Karena itu orang bisa dengan leluasa duduk-duduk di sepanjang trotoar memberi makan rusa.



Tidak terlalu jelas sejak kapan kegiatan memberi makan rusa Istana Bogor berawal. Ada yang bilang baru sekitar empat-lima tahun terakhir ini, tapi ada juga yang bilang jauh lebih lama dari itu. Namun yang jelas, semenjak Jalan Jalak Harupat di sebelah Istana Bogor rutin ditutup untuk kegiatan Car Free Day tiap Minggu pagi, makin banyak orang yang memberi makan rusa.

Trotoar yang sejatinya didedikasikan bagi para pejalan kaki, berubah fungsi menjadi tempat wisata. Tanpa ada kewajiban membayar retribusi masuk, pengunjung leluasa pelesir di pinggir pagar menikmati pemandangan Istana yang megah dan halamannya yang cantik. Tidak sedikit pejalan kaki yang sebenarnya hanya kebetulan lewat, lalu mampir menjadi turis dadakan dan berpartisipasi memberi makan rusa-rusa Istana Bogor. Tidak hanya memberi makan, pengunjung juga bisa membelai, dan berfoto bersama rusa-rusa Istana.



Di akhir pekan ketika pengunjung berjubel, antusiasme pengunjung memberi makan rusa tidak dapat diimbangi oleh nafsu makan rusa untuk melahap seluruh makanan yang disuapi para pengunjung. Hingga para pengunjung pun berebut menarik perhatian rusa-rusa yang ada.

Rumput, Ubi, (dan kini) Kangkung, dan Wortel
Utamanya, makanan “pokok” rusa-rusa Istana Bogor adalah rumput yang tumbuh di halaman Istana. Sebagai tambahan, kadang pihak istana juga memberi potongan-potongan ubi sebagai pakan. Selain itu, rusa-rusa ini juga mendapat “cemilan” wortel dan kangkung untuk melengkapi gizi mereka dari para pengunjung.



Besarnya antusiasme masyarakat memberi makan rusa dimanfaatkan beberapa orang dengan menjadi pedagang wortel dan kangkung untuk diberikan kepada rusa-rusa. Untuk mendapatkan seikat kangkung atau tiga batang wortel, pengunjung cukup mengeluarkan uang sebesar seribu rupiah. Kangkung dan wortel ini didapat dari pasar Bogor yang terletak sekitar 200 meter dari Istana Bogor.

Tidak setiap hari pedagang-pedagang ini menjajakan dagangannya. Mereka hanya berjualan pada akhir pekan saja, Sabtu dan Minggu. Lebih khusus lagi, hanya pada pagi dan sore hari. Itu pun jika tidak turun hujan. Maklum, Bogor, sebagai “the rainy city”, hampir tiap sore diguyur hujan lebat. Pada akhir pekan, satu orang pedagang bisa menjual sampai 5 kg wortel dan kangkung. Bila anda berkunjung di luar akhir pekan, disarankan untuk membawa wortel dan kangkung sendiri.

Sejauh ini tidak ada keberatan dari pihak Istana Bogor atas kegiatan memberi makan rusa oleh masyarakat. Malahan mungkin, sebenarnya pihak Istana justru terbantu dengan adanya kegiatan memberi makan rusa ini. Sekedar mengandalkan rumput yang ada di halaman saja rasanya tidak akan cukup untuk memberi makan rusa-rusa ini sepanjang tahun. Sebagai gambaran, untuk seekor sapi idealnya dibutuhkan empat hektar padang gembala, tentu luas Istana Bogor yang hanya 1,8 hektar tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan makan tujuh ratusan rusa sepanjang tahun.

Macet & Sampah
Karena lokasinya yang tepat berada di sisi jalan, tidak sedikit juga pengunjung yang dengan santainya memarkir kendaraan di pinggir badan jalan. Padahal di sisi jalan ini sudah dipasang rambu dilarang berhenti dan parkir. Tidak hanya kendaraan pengunjung, delman pun acapkali ikut mangkal juga.

Beruntung DLLAJ, sebagai penanggung jawab lalu lintas, cukup sigap menertibkan para pemakai sisi jalan. Tidak kurang dari enam petugas DLLAJ berjaga di sepanjang jalan Juanda di hari Minggu untuk memastikan lalu lintas tetap lancar.



DLLAJ tidak hanya mengusir tanpa memberi solusi. Para pengunjung dipersilahkan memarkir kendaraannya di areal Samsat Kota Bogor yang terletak di seberang Istana Bogor. Sementara delman-delman yang ada ditertibkan untuk mangkal di seberang jalan yang tidak mengganggu arus lalu lintas.

Serba-serbi
Cukup dengan Rp 25.000,00 saja Anda dapat menikmati berkendara di atas delman mengitari areal Istana Bogor dan Kebun Raya yang perjalanannya menempuh waktu sekitar 20 menit.

Kendaraan pengunjung dapat diparkir di area parkir Samsat Kota Bogor.

Tingginya antusiasme masyarakat memberi makan rusa di Istana Bogor membuat berbagai pedagang menjajakan dagangannya di sisi Jalan Juanda. Mulai dari pedagang makanan, minuman, mainan anak, sampai cendera mata turut meramaikan trotoar.

Tidak jarang ditemui sampah plastik di dalam areal istana akibat masih rendahnya kesadaran para pengunjung. Sampah-sampah plastik ini kebanyakan berasal dari bungkus makanan dan minuman pengunjung yang kemudian sangat mungkin termakan oleh rusa-rusa.

Idealnya disediakan pengawas yang bertugas menyisir dan membersihkan areal sepanjang pagar Istana Bogor. Terutama di akhir pekan, ketika pengunjung berjubel. Demi menjaga kebersihan dan kesehatan rusa-rusa yang ada.

Solusi lain yang mungkin dapat mengatasi masalah sampah adalah dengan menyediakan tempat sampah di sepanjang pagar Istana Bogor. Slogan-slogan khusus juga dapat dibuat untuk menarik perhatian pengunjung. Kalimat semacam,”mau wortelnya, gak usah diplastikin,” dapat ditempelkan di tempat sampah untuk membangun kesadaran pengunjung akan bahaya sampah plastik mereka bagi rusa. Tentunya upaya ini akan menjadi lebih bergaung apabila melibatkan komunitas-komunitas lokal yang ada di Bogor.

Interaksi Warga dan Istana
Adanya kegiatan memberi rusa menjadi sebuah interaksi unik antara warga dengan Istana Bogor. Selain kegiatan open house yang hanya terjadi sekali dalam setahun, praktis hampir tidak ada interaksi antara warga dan Istana Bogor.




Jika bukan karena kegiatan organik seperti kegiatan memberi makan rusa, yang diinisiasi warga Bogor, rasanya hubungan antara warga dan Istana Bogor akan sangat dingin. Melalui kegiatan seperti inilah kebekuan itu dapat dicairkan. Jangan sampai Istana Bogor hanya mengambil tempat di Bogor, tanpa memberi kontribusi terhadap warga sekitarnya, sekalipun itu hanya sebagai tempat rekreasi dari balik pagar.



Blog Sindikat Kapak Merah Jambu lainnya : Rae, Anggi

06 March 2009

Adults (Men) Only

Links to this post
MaturePost kali ini berisi tentang dunia laki-laki dan diperuntukan bagi laki-laki sejati dan dewasa. Bila Anda bukan laki-laki atau belum dewasa, tetapi tetap memaksa ingin membaca yah sudah, terserah saja saya mau bilang apa, tapi ingat resiko tanggung sendiri :D. Sebenarnya post ini sudah lama ada di draft akan tetapi tidak kunjung rampung dan sempat beberapa kali disalip oleh post-post lain.


Rating: Mature 17+

Keyword: laki-laki, sejati, cinta, suami, istri, resmi.

Comment system: IntenseDebate


01 November 2008

Temon Begin

Links to this post
Everybody +10Post ini berisi tentang asal-muasal nama Temon yang saya gunakan sejak lama. Saya akan sedikit membahas tentang tanggapan orang ketika mendengar nama panggilan saya tersebut serta beberapa arti nama Temon di beberapa daerah, sejauh yang saya tau tentunya. Selain itu saya juga ingin menjelaskan hubungan antara Temon yang ini dengan Temon yang ada di televisi baik dahulu maupun sekarang.



Rating: Everyone 10+

Keyword: temon, arti, nama, asal-muasal, panggilan, resmi.

Comment system: Blogger





Sehubungan dengan semakin populernya nama "Temon" akhir-akhir ini, maka menjadi penting bagi saya untuk mengklarifikasi asal-muasal nama Temon yang satu ini. Sejatinya post tentang hal ini sudah sejak lama saya rencanakan, akan tetapi saya pikir sekarang lah waktu yang paling tepat untuk menyusun dan mempublishnya. [kenapa baru sekarang?] (mumpung inget dan sempet he..he..)



Sebelumnya izinkan saya memperkenalkan nama legal saya terlebih dahulu. Nama saya yang tertera pada KTP dan beberapa dokumen lainnya adalah þ®ihãrdãdi (doang). Berhubung beberapa institusi merekomendasikan / mengharuskan penggunaan nama belakang, maka pada beberapa kesempatan saya menggunakan nama Prihardadi Supardi (Supardi is my old man name).



Temon!? koq Temon sih?
Bagi beberapa orang (terutama yang mengerti bahasa jawa) mungkin akan sedikit terhenyak ketika mendengar nama panggilan saya tersebut, seperti terlihat pada beberapa komentar di beberapa post. Konon di daerah jawa tengah terutama di sekitar Magelang dan Yogyakarta, Temon berarti cewek muda nan bohai, montok, semok, bahenol-demplon, prikitiw deh pokoknya. Selain itu, kembali konon kabarnya, Temon itu berarti temuan atawa pungut. Dengan kata lain yang diberi nama temon itu adalah anak yang ngegeletak di pinggir jalan, dilalerin lalu dipungut deh sama orang lewat yang iba melihatnya hu..hu.. Dengan ini saya nyatakan Temon yang satu ini tidak ada hubungannya dengan salah satu dari "konon kabarnya" tersebut.



Nah koq mirip nama penyiar??
Sekitar delapan tahun lalu pertanyaan tersebut pernah terlontar dari seorang senior saya di kampus. Sebagian dari Anda mungkin sudah mengetahui maksud beliau. Yak benar, yang dimaksud adalah nama penyiar radio SK (Suara Kejayaan), di sekitar pertengahan 90-an. Ketika itu kira-kira saya masih duduk di bangku sekolah dasar, tetapi entahlah seperti sudah menjadi kebiasaan, saya selalu mendengarkan radio yang diperuntukkan (segmen) bagi usia di atas saya (lebih tua). Artinya begini, ketika SD saya mendengarkan radio ABG, ketika ABG saya mendengarkan radio untuk mahasiswa dan seterusnya he..he.. Kembali tentang si penyiar radio, mungkin sebagian besar dari Anda telah mengenalnya dengan baik saat ini, bila belum silakan tonton sitkom Abdel dan Temon di Global TV, nah di sana Anda dapat melihat Temon yang saya maksud.



Semua berawal ketika ....
Okay saya akan coba menceritakan kepada Anda sekalian tentang asal-muasal nama Temon yang saya sandang ini. Semua berawal ketika saya lahir..., eh kejauhan deng he..he.., kita percepat menjadi 2,5 tahun setelah saya lahir.



Tersebutlah pada suatu malam, ketika teman-teman sebayanya sedang asik terlelap di peraduan þ®ihãrdãdi kecil belum ingin memejamkan matanya (yang sipit itu) guna mempercepat proses pertumbuhan. Ya, tidur siang yang terlalu lama merupakan pangkal permasalahan dari segala penyimpangan ini.



Melihat fenomena ini sang Bunda pun mengajaknya ke depan kotak ajaib berwarna merah, yang gambarnya masih hitam-putih. Pada malam tersebut, pukul tersebut telah terjadwal sebuah film heroik kemerdekaan yang berjudul "Serangan Fajar". Mungkin sebagian dari Anda ada yang berpikir, "Ah Serangan Fajar, itu kan propaganda Orba". Akan tetapi cobalah renungkan, cobalah Anda tanyakan pada anak berusia 2.5 tahun saya yakin jawabannya adalah "Persetan dengan orde!!" he..he..



Entahlah apakah Prihardadi kecil mengerti apa yang dilihatnya? Sepertinya saat menyaksikan film tersebut Ia amat tertarik dan terkesan dengan salah satu tokoh. Ya benar tokoh tersebut adalah Temon, seorang anak kecil yang sedang gundah karena ditinggal berperang oleh bapaknya, dan di kemudian hari menjadi pilot pesawat tempur (bener nggak nih ceritanya ya terus terang saya dah lupa he..he..).



Film pun berakhir, Prihardadi kecil terlelap, entah apakah Ia menyaksikan film tersebut sampai akhir atau tidak. Sampai pada keesokan harinya saat orang tua Prihardadi kecil memanggilnya dengan Dadi dan Ia tidak mengacuhkannya. Mulai saat itu juga Ia (secara sadar sepertinya, saya sendiri tidak ingat :p) meminta orang tuanya untuk memanggil dirinya dengan nama TEMON.



Sebuah trauma masa kecil yang cukup memilukan (bagi orang tuanya) he..he.. Panggilan itu pun berlanjut, dari lingkungan rumah, taman kanak-kanak, SD dan sampai sekarang. Nama resmi pemberian orang tua pun tenggelam. Nama tersebut hanya digunakan untuk masalah legal dan formalitas. Bahkan tidak jarang orang yang mengenal Temon tidak mengenal Prihardadi.



Fin. :p



Yah begitulah ceritanya boleh percaya boleh tidak keputusan ada di tangan Anda. Berbicara tentang nama kurang lengkap tanpa melihat name's hidden meaning seperti yang dilakukan jeng Mayang yang ternyata ada Anindyajati-nya (baru tau sayah :p). Sebenarnya saya sudah pernah mencobanya beberapa bulan lalu setelah melihat profile friendster Astrid. Sayang disayang ketikan ingin melihat lagi si Astrid sudah tidak memasangnya lagi. Untunglah si Ghea yang bermarga Doang mem-bookmarknya di Stubleupon he..he..



Bila berminat silakan dilihat arti tersembunyi baik dari nama resmi saya dan nama yang tidak resmi tetapi lebih dikenal.



Prihardadi Vs. Temon



Nah bagi yang merasa sudah mengenal saya, sudi kiranya untuk memberikan komentar arti tersembunyi dari nama yang mana (antara kedua nama tersebut) yang saya banget gitu loch :p

Read more...

23 October 2008

How Liberal Can You Go? (Part II)

Links to this post
MaturePost kali ini merupakan kelanjutan dari sebuah post yang berjudul "How Liberal Can You Go?" (link saya letakkan di bagian akhir post) yang telah saya buat sekitar satu tahun lalu. Sebelum Anda membaca post ini lebih lanjut, saya peringatkan bahwasannya post ini mengandung materi yang mungkin agak sensitif untuk sebagian orang dan post ini hanya ditujukan bagi mereka yang cukup open-minded.

Rating: Mature 17+
Keyword: faith, spiritual, religion, logic, wisdom.
Comment system: IntenseDebate

(Bagian Kedua dari Dua Tulisan)

Apa kabar pembaca sekalian? lama tidak terlihat ya :D [ada gitu pembaca setianya?] (seperti biasa, PeDe aza :p). Akhir-akhir ini ide post datang bertubi-tubi di kepala saya dan sialnya hampir semua ide tersebut termasuk dalam kategori "berat", dengan demikian saya tidak dapat langsung seenak udel mempublishnya. Banyak hal yang harus dilakukan dalam mengolah postingan yang termasuk kategori "berat" tersebut diantaranya adalah memperhalus, membuatnya lebih (seolah-olah) ringan dan nyaman (konform) serta menetralisir unsur-unsur emosional yang ada, terutama unsur anger >:).

Okay kita mulai fokus kepada post kali ini. Jujur saja, ketika menyelesaikan bagian pertama (yang sebagian besar hanya menulis ulang karya orang lain) saya tidak tahu pasti bagaimana konsep tulisan bagian kedua ini. Ide tentang konsep bagian kedua datang sedikit demi sedikit dari berbagai hal yang saya alami, pikirkan, diskusikan dan sempat juga sedikit saya renungkan lebih-kurang hampir satu tahun terakhir.

Permainan kata-kata

Bermain dengan kata-kata merupakan salah satu keahlian yang wajib dimiliki oleh seseorang yang sudah melewati usia 25 tahun, apa lagi bagi laki-laki he..he.. Walaupun belum mancapai tingkatan master tapi yah lumayan lah korbannya sudah bergelimpangan :p. Dalam review buku The Art of Loving saya menuliskan.
Entah mengapa setelah membaca buku ini seketika semua wanita menjadi cantik di mata saya.
Mungkin sebagian dari pembaca ada yang pernah berdiskusi dan sedikit saya jelaskan makna tersirat dari kalimat tersebut, bagi yang belum, kali ini akan saya jabarkan kepada Anda sekalian.

Sebelumnya mari kita berkenalan dengan logika aristotelian, sejauh yang saya pahami tentunya :D. Mungkin kalau boleh saya katakan logika filsafat aristotelian adalah logika yang kaku tetapi di lain pihak, sifatnya yang kaku tersebut membuatnya sederhana dan mudah dipahami. Sebenarnya konsep logika aristotelian ini lah yang lumrah kita gunakan di sekolah, kampus dan berbagai tempat lainnya, hanya mungkin tidak disebut-sebut sebagai logika filsafat aristotelian mungkin karena sepertinya terkesan angker atau memang tidak mengerti sama sekali :p. Tiga prinsip dari logika filsafat aritotelian adalah
  • Hukum identitas (A adalah A).
  • Hukum kontradiksi (A bukan non-A).
  • Hukum tidak ada jalan tengah (A tidak dapat menjadi A dan non-A, juga A atau bukan non-A).
Bagaimana, sudah mulai pusing? sama kalo gitu he..he..

Kembali ke gombalan kutipan review saya di atas. Saya mengatakan "... semua wanita menjadi cantik ..." yang berarti si A cantik, si B cantik, si C cantik dan seterusnya. Jika semua wanita menjadi cantik apakah atribut cantik masih penting? Dengan kata lain, cantik tidak lagi signifikan (bukan atribut utama yang menentukan) seperti yang saya nyatakan dalam komentar saya di salah satu post jeng Melur.

Salah satu teknik smoothing

Teknik permainan kata-kata tadi acap kali saya gunakan untuk melakukan smoothing. Smoothing (memperhalus) di sini dalam artian memperhalus pernyataan (statement). Suatu ketika saya berujar.
Agama itu lebih dari hanya sekedar membuat kita menjadi orang baik-baik.
Pernyataan tersebut di atas sudah saya smoothing. Kira-kira seperti apakah kalimat versi kasarnya? Okay persiapkan diri Anda dan kencangkan ikat pingang. "Kalau hanya ingin menjadi orang baik-baik, tanpa beragama pun sebenarnya juga bisa".

Okay tenang semua, tenang-tenang, jangan panik jangan kisruh. Mungkin bagi sebagian pembaca yang spaneng setelah membaca pernyataan barusan post yang satu ini mungkin dapat sedikit membantu (menjadi tambah spaneng he..he..). Pernyataan tersebut saya lontarkan hanya ingin mengungkapkan fungsi agama yang saya pahami sejauh ini, yang munkin tidak saya dapat dari pelajaran agama di bangku sekolah dan bangku KOPAJA.

Agama, menurut saya sementara ini


Seperti yang telah saya katakan, agama lebih dari sekedar membuat seseorang menjadi orang baik-baik, tidak membuang sampah sembarangan, tidak maling, tidak korupsi, tidak berkencan dengan istri tetangga dan lain sebagainya. Agama datang dari "atas", nalar, spiritualitas manusia dan hati nurani tidak mampu merabanya. Maka dari itu, agama membutuhkan utusan, penghubung antara langint dan bumi. Utusan untuk memberi tahu siapa nama-Nya. Utusan yang menyampaikan perkataan-Nya, menjelaskan mengapa kita hidup di sini, di dunia. Utusan yang menuntun tata-cara ritual inti sesuai dengan kehendak-Nya, untuk dilakukan oleh penganutnya sebagai pengakuan dan bukti ketundukan pada-Nya.

I'm a Moslem

Saya seorang muslim, agama saya Islam, akan tetapi Islam lebih dari sekedar agama, Islam juga merupakan sebuah peradaban. Saya tidak akan berbicara panjang lebar tentang keonsep peradaban Islam saat ini, tapi saya hanya ingin menelaah arti muslim. Kata muslim, masih berhubungan dengan Islam, dan juga kata salam karena konon akar katanya sama (CMIIW, maaf saya sangat awan dengan bahasa Arab) yaitu Sin, Lam dan Mim.

Seingat saya, guru agama dulu mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang damai, sesuai dengan arti salam kalau tidak salah artinya damai dan selamat. Beberapa waktu lalu setelah saya sempat mencari-cari, arti harfiah (kamus) kata islam adalah menyerah, surrender, submission. Saya sempat mendiskusikan hal tersebut kepada beberapa orang kawan yang juga muslim, dari tampilannya dapat dikatakan beliau lebih regius dari saya :D, entah mengapa saya "mencium sedikit aroma" ketidaksukaan saat saya mengemukakan hal tersebut, walau beliau pun mengakui arti harfiah kata islam adalah menyerah.

Kikis egomu dan menyatulah dengan ego-Nya

Islam berarti menyerah sedangkan muslim berarti orang yang menyerah, sekarang pertanyaannya menyerah kepada siapa? Sudah pasti jawabannya adalah menyerah kepada Dzat yang maha kuasa. Begitu pula arti salam atau berdamai tadi, sudah pasti berdamai dengan Dzat yang mengusasai alam semesta. Entah mengapa teman saya tadi harus merasa kurang suka, mungkin terkesan lemah atau apa, entahlah. Saya yakin bukan suatu kebetulan, konsep ini juga saya temukan di ajaran TAO, akan tetapi TAO tidak berbicara tentang nama Tuhan karena saya pikir TAO bukanlah agama TAO adalah filsafat kearifan tradisional yang mengandalkan nalar, spiritualitas manusia dan hati nurani. Konsep tersebut dapat Anda lihat pada post It's not that simple!, baris yang terkait akan saya kutip lagi sebagai penutup post kali ini.
... Apakah Anda ingin menjadi bebas dan merdeka. Sesuaikan dengan hukum Tuhan bagaimana sesuatu itu terjadi. ...

Related posts:



Read more...

Intense Debate Comments